Seminar Buku Cerita Anak Berkualitas: Dari Kreator Buku untuk Anak Indonesia Gem

  • Artikel/Berita
  • 23 Juli 2020
  • Rika Yudani - Project Officer of Room to Read Division
Seminar Buku Cerita Anak Berkualitas: Dari Kreator Buku untuk Anak Indonesia Gem

Buku cerita anak yang baik adalah buku yang mampu membuka jendela pikiran dan jendela hati anak-anak. Demikian salah satu pernyataan menarik yang muncul dalam ‘Seminar Buku Cerita Anak Berkualitas: Dari Kreator Buku untuk Anak Indonesia Gembira’ yang diselenggarakan oleh Room to Read bersama ProVisi Education dalam Rangka Hari Anak Nasional 2020. Mengangkat tema Anak Terlindungi, Indonesia Maju dan tagline #AnakIndonesiaGembiradiRumah, seminar daring ini mengundang penulis dan illustrator buku cerita anak untuk berbagi proses dan pengalaman saat terlibat dalam pembuatan buku cerita anak yang berkualitas bersama Room to Read.

Dua penulis buku anak Kusumadewi Yuliani dan Imelda Naomi, serta dua ilustrator buku cerita anak, Evelyn Ghozali dan Wastana Haikal berbagi cerita tentang proses pembuatan buku mulai dari tantangan dan pembelajaran dalam penulisan buku anak kepada hampir 300 peserta yang terdiri dari penulis, ilustrator, guru/kepala sekolah/pustakawan, serta mahasiswa dan orang tua dari seluruh Indonesia. Pembuatan buku cerita anak yang baik harus mempertimbangkan sudut pandang anak karena logika anak berbeda dengan orang dewasa.

“Buku cerita yang menarik adalah yang mampu membuat anak-anak terlibat dalam buku,” kata Imelda Naomi. “Melalui buku-buku tersebut, anak-anak menjadi ingin membaca lagi, lagi, dan lagi.”

Room to Read menerapkan proses pembuatan buku berkelanjutan dalam proses pembuatan buku cerita anak yang berkualitas. Mahesh Pathirathna, Associate Director Book Publishing Room to Read Global, menyampaikan bahwa Room to Read telah mengembangkan buku cerita anak dalam 30 bahasa untuk mendukung kegembiraan membaca anak-anak. Di Indonesia, Room to Read pertama kalinya bekerja sama dengan penerbit lokal dan Pemerintah.

“Room to Read menyediakan workshop dan mentoring untuk penerbit, penulis, dan illustrator, untuk memastikan tersedianya buku-buku berkualitas yang dapat dinikmati oleh beragam anak di Indonesia,” ungkapnya. “Anak adalah bagian dari masyarakat. Karenanya Room to Read menyajikan berbagai format buku anak, non fiksi, cerita rakyat, serta koleksi khusus misalnya cerita tentang anak tuna netra.”

Workshop dan mentoring buku-buku Room to Read telah memberikan pengetahuan dan mengubah cara pandang para penulis dan ilustrator. “Membuat buku anak tampaknya mudah, namun kami harus sangat teliti dan memberikan deskripsi sangat detail,” kata Kusumadewi Yuliani yang juga seorang guru sekolah dasar. “Apa yang saya dapatkan dalam workshop, juga sangat bermanfaat saat mengajar anak-anak.”

Saat menulis buku Lautkah Ini?, Kusumadewi harus sungguh-sungguh mempelajari siklus air dan mencari tahu ukuran tetes air agar bisa menjelaskan dengan detail kepada ilustrator. Buku tersebut hadir setelah Kusumadewi terinspirasi oleh pertanyaan dari siswanya. “Proses penulisannya sangat panjang, tapi semuanya terbayar saat melihat buku-buku kita disebarkan ke seluruh Indonesia dan dibaca oleh anak-anak,” tambahnya.

Selain melalui workshop dan mentoring yang intensif, Room to Read juga menjalankan field testing, yaitu proses menghadirkan buku cerita ke hadapan anak-anak untuk melihat apakah narasi dan ilustrasi telah dimengerti oleh mereka. Field testing menjadi tahap penting bagi buku-buku Room to Read sebagai penentu kelanjutan proses akhir cetak buku.

Dalam sambutan pembukanya, Dr. Ir. Eko Warisdiono, MM, Koordinator Fungsi Penilaian Direktorat Sekolah Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengungkapkan bahwa buku membentuk karakter positif anak Indonesia. “Apa yang dibaca anak saat ini akan membentuk masa depannya,” ungkapnya. “Pembuatan buku cerita anak bersama Room to Read dan ProVisi Education merupakan bagian dari proses penguatan kompetensi numerasi dan literasi, yang sejalan dengan kebijakan Pemerintah.”

Dr. E Oos M Anwas, M. Si, Peneliti Ahli Utama Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), Kemendikbud, turut memberikan materi pembuka dan menyampaikan prinsip penulisan buku cerita anak yang baik berdasarkan Puskurbuk. “Buku yang baik adalah yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak,” ungkapnya. “Kami memiliki amanat untuk bersama-sama mewujudkan ekosistem perbukuan yang menghasilkan buku bermutu, murah, dan merata.”

Mahesh Pathirathna menambahkan bahwa kebutuhan buku untuk anak-anak Indonesia tidak dapat seluruhnya terpenuhi melalui buku cetak. Oleh karena itu, dengan dukungan dari Google.org, Room to Read mengembangkan pelantar digital Literacy Cloud. Literacy Cloud menyediakan lebih dari 200 buku cerita anak berkualitas serta beragam sumber dan video pembelajaran untuk kreator buku dalam mengembangkan buku cerita anak. Literacy Cloud juga bermanfaat untuk menemani kegiatan membaca di rumah anak-anak selama masa pandemi COVID-19.

Kontak:
Sabrina Esther Sarmili
Koordinator Program Perpustakaan
+62 812-9589-5012

​​​​​​​

==

Tentang Room to Read

Room to Read didirikan pada tahun 2000 dengan keyakinan bahwa World Change Starts with Educated Children®. Room to Read menciptakan dunia yang bebas dari buta huruf dan bebas dari ketidaksetaraan gender. Kami mencapai tujuan ini dengan membantu anak-anak di masyarakat berpenghasilan rendah mengembangkan keterampilan membaca dan kebiasaan membaca, dan dengan mendukung anak perempuan untuk membangun keterampilan agar berhasil di sekolah dan mampu melakukan negosiasi terkait keputusan penting dalam kehidupan. Kami bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi mitra lainnya untuk memberikan hasil positif bagi anak-anak dalam skala besar. Room to Read telah berbagi manfaat dengan lebih dari 18 juta anak dan 39.000 komunitas di 16 negara dan bertujuan untuk menjangkau 40 juta anak pada tahun 2025. Pelajari tentang kami lebih lanjut di www.roomtoread.org.