Room to Read Berbagi Teknik Penulisan Buku Anak 'Show, Don't Tell'

  • Artikel/Berita
  • 26 Oktober 2020
  • Rika Yudani - Project Officer of Room to Read Division
Room to Read Berbagi Teknik Penulisan Buku Anak 'Show, Don't Tell'

Jakarta -  Room to Read dan ProVisi Education mengadakan pelatihan daring penulisan buku cerita anak dengan tema “Writing Children Storybooks 101: Show, Don’t Tell” pada Senin (26/10). Pelatihan mengundang Alfredo Santos, QRM Manager of Book Publishing Southeast Asia, Room to Read dan Sofie Dewayani, penulis dan editor Yayasan Litara sebagai pemateri. Mereka yang berbagi arti dan pentingnya penerapan konsep ‘show, don’t tell’ dalam penulisan buku anak berkualitas.

Sofie Dewayani menyampaikan bahwa showing, not telling terkait dengan kemampuan deskripsi yang merupakan kecakapan penting pada abad 21. Penggunaan kosakata yang kaya, baik dalam bahasa lisan, bahasa tulis, maupun bahasa visual menentukan keterampilan komunikasi praktis anak.

“Penulis sebaiknya berpikir bahwa bukan hanya ia yang menyampaikan cerita,” katanya. “Ia berbagi porsi dengan illustrator.”

Sofie berbagi tips cara menghindari ‘telling’ dalam penulisan cerita, diantaranya yaitu dengan mengaktifkan pengalaman sensori pembaca dan menghindari terlalu banyak adjektiva dan adverbial.

Alfredo Santos, yang akrab dipanggil Al, yang menyajikan materi Show Don’t Tell: Creating Engaging Action in Narrative Structure mendorong kreator buku anak untuk membuat cerita yang mampu membuat para pembaca menjelajahi, menemukan, atau mempelajari pesan cerita sendiri.

“Hindari penggunaan dialog-dialog panjang yang menjadikan cerita ‘over-explaining’,” ungkapnya. “Kisah yang naratif dapat lebih melibatkan pembaca, pembaca lebih belajar dan memahami makna cerita dengan lebih mendalam.”

Pelatihan daring diselenggarakan dengan dukungan Direktorat Sekolah Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan menggunakan Webex Direktorat SD. Hampir 600 peserta yang terdiri dari penulis dan ilustrator buku anak, guru, kepala sekolah, dan pustakawan, serta penggiat literasi mendaftarkan diri dan terlibat dalam diskusi aktif bersama para pemateri.

Chatarina Trihastuti, Project Manager Room to Read, ProVisi Education, mengatakan bahwa kegiatan pelatihan daring ini merupakan salah satu inisiatif Room to Read dan ProVisi Education untuk mendukung para kreator buku anak untuk mengembangkan buku cerita anak untuk anak-anak Indonesia. Dengan dukungan dari Google.org, Room to Read telah mengembangkan pelantar digital literacycloud.org yang menyediakan 220 buku cerita bergambar yang dibuat oleh para penulis dan illustrator dengan dukungan mitra penerbit dari Indonesia.

Dalam literacycloud.org, para kreator buku anak juga dapat menemukan video-video pembelajaran yang dapat mendukung mereka mengembangkan buku anak yang berkualitas.

==

Tentang Room to Read

Room to Read didirikan pada tahun 2000 dengan keyakinan bahwa World Change Starts with Educated Children®. Room to Read menciptakan dunia yang bebas dari buta huruf dan bebas dari ketidaksetaraan gender. Kami mencapai tujuan ini dengan membantu anak-anak di masyarakat berpenghasilan rendah mengembangkan keterampilan membaca dan kebiasaan membaca, dan dengan mendukung anak perempuan untuk membangun keterampilan agar berhasil di sekolah dan mampu melakukan negosiasi terkait keputusan penting dalam kehidupan. Kami bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi mitra lainnya untuk memberikan hasil positif bagi anak-anak dalam skala besar. Room to Read telah berbagi manfaat dengan lebih dari 18 juta anak dan 39.000 komunitas di 16 negara dan bertujuan untuk menjangkau 40 juta anak pada tahun 2025. Pelajari tentang kami lebih lanjut di www.roomtoread.org.

 

Tentang Google.org

Google.org menghubungkan inovator nirlaba dengan sumber daya Google untuk menyelesaikan tantangan manusia yang kompleks, dan memastikan bahwa setiap orang dapat berpartisipasi dalam ekonomi digital. Teknologi yang sama yang membuat hidup kita lebih mudah setiap hari juga dapat membantu menyelesaikan beberapa masalah terbesar dunia. Itulah sebabnya kami menerapkan teknologi canggih untuk beberapa tantangan terbesar kami, seperti menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu memprediksi bencana alam. Setiap orang harus dapat berpartisipasi dalam ekonomi digital, jadi kami menyediakan pelatihan keterampilan digital untuk pencari kerja, mendukung keamanan online dan melek media, dan berinvestasi dalam pendidikan ilmu komputer untuk siswa - terutama di komunitas yang kurang terwakili. Kita tahu bahwa jawaban terbaik sering datang dari jawaban yang paling dekat dengan masalah. Itulah sebabnya kami bergabung dengan inovator nirlaba, melakukan sukarelawan Google, teknologi, dan lebih dari $200 juta dalam bentuk hibah setiap tahun untuk membantu meningkatkan dampaknya.