Menuju Perpustakaan Ramah Anak Berbasis Digital

  • Artikel/Berita
  • 01 Juli 2019
  • Enda Hidayat - Literacy Development Program
Menuju Perpustakaan Ramah Anak Berbasis Digital

Pelantar, surel, peramban, daring, dan luring, inilah istilah-istilah teknologi yang masih cukup asing, tetapi sepertinya akan segera viral di kalangan guru. Bagaimana tidak, istilah-istilah internet ini akan menjadi bagian dari rutinitas guru-guru di 30 sekolah dasar yang terseleksi dan berkomitmen dengan program “Fostering a Love of Reading Among Children in Indonesia (Digital Library: More reading, more learning)” kerja sama Room to Read dan Google.org

Digitalisasi, inilah yang membuat program Room to Read yang sebelumnya selalu identik dengan Perpustakaan Ramah Anak menjadi berbeda. Tentunya dengan adanya transformasi digital ini, para fasilitator yang mumpuni dalam program Perpustakaan Ramah Anak perlu di-upgrade guna menguasai fitur pustaka digital yang disebut “Pelantar Literacy Cloud”.

Pelantar Literacy Cloud merupakan pelantar daring di mana guru dapat menemukan buku-buku berkualitas, video-video untuk memahami perpustakaan dan meningkatkan kegiatan membaca bersama anak, membuat daftar bacaan, dan juga mengakses sumber lain yang membantu guru untuk meningkatkan kebiasaan membaca anak-anak” – David Strawbridge (Room to Read).

Sanur, Bali menjadi pusat bertemunya tiga mitra perpustakaan yang mewakili tiga lokasi proyek. Mutiara Rindang—Jawa Timur, Yayasan Literasi Anak Indonesia—Bali, dan Taman Bacaan Pelangi—Nusa Tenggara Timur. Selama lima hari penuh (17-21 Juni 2019), David Strawbridge – Associate Director Southeast Asia on Literacy Program of Room to Read mentransfer keterampilan baru untuk menjelajah fitur-fitur pelantar Literacy Cloud dan cara mengenalkannya kepada guru-guru.
 

(Praktik membuat akun Literacy Cloud menggunakan perangkat tablet)

Langkah-langkah pembuatan akun menjadi bagian awal yang harus peserta kuasai. Menghubungkan ponsel pintar ke Wi-Fi, menggunakan fitur surel, serta menggunakan fitur peramban sepertinya terdengar mudah. Namun dalam Training of Trainer – Digital Library yang diadakan Room to Read dan ProVisi Education ini, peserta yang merupakan fasilitator di setiap wilayah proyek harus mampu membuat kemudahan itu berlaku bagi semua peserta workshop, yaitu guru-guru. Selain itu, mereka juga dituntut untuk dapat memberikan solusi pada setiap kendala teknologi yang muncul dari pengguna dengan perangkat yang tentunya akan bervariasi.


(Peserta menjelajah fitur buku dalam Pelantar Literacy Cloud)

Menjelajah fitur perpustakaan digital menjadi menjadi fokus selanjutnya. Fitur buku yang di dalamnya terdapat koleksi buku cerita anak berkualitas pun dijajal. Mulai dari bagaimana cara mengakses buku, membaca buku, menambahkannya ke favorit, sampai menyimpan luring agar dapat dibaca tanpa jaringan internet. 


David Strawbridge (Room to Read) dan Sabrina Esther (ProVisi) menjelaskan bahan dan panduan untuk penggunaan setiap fitur Literacy Cloud


Selain fitur buku, peserta pun diajak membedah fitur video yang di dalamnya terdapat koleksi video-video landasan membaca dan kegiatan membaca. Secara mendetail David Strawbridge mempresentasikan langkah-langkah mengakses video, memainkan video, dan juga cara mengunduh video agar dapat ditonton luring. Nantinya, video-video tersebut dapat digunakan oleh guru-guru untuk membantu mereka lebih memahami Perpustakaan Ramah Anak dan meningkatkan kegiatan membaca bersama anak-anak. 

(Mengulas fitur video dalam Pelantar Literacy Cloud)

Dalam workshop ini, peserta tidak hanya mengulas setiap fitur Pelantar Literacy Cloud, tetapi juga memberikan umpan balik dari fitur-fitur yang telah berfungsi dengan baik dan juga beberapa fitur yang masih perlu ditingkatkan demi kenyamanan dan kemudahan pengguna. Setelah workshop ini, para fasilitator akan mengadakan workshop distrik untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada guru-guru di tiga puluh sekolah proyek. Semoga dengan hadirnya program Perpustakaan Ramah Anak Berbasis Teknologi Digital ini guru-guru menjadi terampil dalam menggunakan perangkat pendukung teknologi guna mengembangkan kebiasaan membaca anak, sehingga mereka terbiasa membaca baik di sekolah maupun di rumah.


Peserta berfoto bersama pada akhir sesi workshop