Kegiatan Membaca, Saat Guru Berperan sebagai Panutan

  • Artikel/Berita
  • 08 April 2020
  • Rika Yudani - Project Officer of Room to Read Division
Kegiatan Membaca, Saat Guru Berperan sebagai Panutan

“Poni berlari bebas.

Dia meninggalkan Beni di belakang.

Horeee! Poni bebas! Guk! Guk!”

Penuh ekspresi Ida Ayu Dewanti, S.Pd., guru dari SD No. 3 Mambal, Bali membacakan buku cerita berjudul Poni Jangan Lari. Gerakan tangan, tiruan suara gonggongan, serta intonasi menarik, membuat kegiatan demonstrasi membaca lantang di sesi ketiga Seminar Nasional Kegiatan Membaca melalui Literacy Cloud pada 12 Maret 2020 menjadi lebih seru dan penuh warna.

Ida Ayu merupakan salah satu bintang tamu yang secara khusus diundang dalam sesi ini. Bersamanya, turut hadir Leda Jovial Lovakusuma, guru dari SDN Jemundo 2, Sidoarjo. Ibu Ida Ayu dan Bapak Leda selama lebih dari setahun terakhir secara konsisten telah menjalankan kegiatan membaca harian dan mempraktikkan ilmu dan trik-trik khusus di ruang kelas mereka. Dan, hasilnya, kegiatan tersebut berhasil menarik perhatian dan menumbuhkan kebiasaan membaca siswa-siswa mereka. Maka, kali ini, mereka hadir agar dapat berbagi pengalaman dan cerita kepada rekan-rekan guru lain di seluruh Indonesia.

Sesi ini berlangsung dengan meriah dan riuh dengan tawa. Selain karena kehadiran dua bintang tamu yang memberikan suasana berbeda,  peserta juga mempraktikkan gerakan yel yel Direktorat Sekolah Dasar - Cerdas Berkarakter, yang kompak ditirukan oleh para peserta guru saat berinteraksi melalui video konferensi. Dengan antusias, sepanjang sesi, sekolah di Bali, Jambi, Cirebon, Kediri, dan Jakarta tampil di layar, kompak melakukan gerakan, serta menyapa rekan-rekan guru di seluruh Indonesia.

Melanjutkan materi sebelumnya, sesi kali ini mengangkat tema Melakukan Kegiatan Membaca yang Menarik untuk Anak-anak. Selain itu, sesi ini juga membahas langkah dan panduan sebelum membaca, saat membaca, dan setelah membaca serta cara dan trik-trik khusus saat membaca bersama anak-anak.

 “Hingga saat ini, saat membaca lantang, saya masih selalu menempelkan ‘contekan’ di tiap halaman,” ungkap Ibu Ida Ayu saat ditanya persiapannya sebelum kegiatan membaca. “Dengan ‘contekan’ ini, saya jadi lebih mudah teringat, apa yang harus saya lakukan dan sampaikan kepada anak-anak.”

Ketika ditanya, bagaimana agar kegiatan membaca mendapatkan perhatian penuh anak-anak, Pak Leda menjawab, “Kita hayati terlebih dahulu ceritanya. Dari penghayatan tersebut, bisa muncul gerakan dan ekspresi yang tepat dan mendukung jalan cerita. Lalu, natural saja, anak-anak lebih senang jika kita tidak dibuat-buat.”

Pak Leda menekankan bahwa peran guru menjadi sangat penting dalam kegiatan membaca. “Guru menjadi role model bagi anak-anak. Saat guru membaca dengan ekspresi dan gerakan yang menarik, anak-anak juga turut tertarik,” ucap Pak Leda untuk memotivasi rekan-rekannya.

Dan, yang lebih penting, tambahnya, “Jaga kontak mata dengan anak-anak. Karena, dari situlah mereka akan merasa penting dan mendapat perhatian. Dengan demikian, ikatan antara guru dan siswa akan terbentuk.”

Ibu Ida Ayu dan Pak Leda menjadi saksi betapa beragam manfaat yang didapat dari kegiatan membaca. Anak-anak tampak lebih percaya diri dan berani. Anak-anak mendapatkan penambahan kosakata karena selalu diperkenalkan dengan kata-kata baru dari buku. Dan yang paling utama, jika anak-anak melihat guru mereka membaca dan menikmati kegiatan membaca, mereka akan turut termotivasi untuk membangun kebiasaan membaca pula.

Melalui perkembangan teknologi, kegiatan membaca dengan anak-anak kini dapat dilakukan dengan lebih mudah. Buku-buku untuk anak yang berkualitas menjadi dapat diakses dengan lebih luas. Lalu, bagaimana persiapan dalam pemanfaatan teknologi untuk kegiatan membaca? Apa tantangan yang mungkin akan dihadapi para guru dan bagaimana solusinya? Nah, hal inilah yang akan menjadi tema utama dalam sesi keempat nanti.