Berkat Guru, Kegiatan Membaca Tak Terhenti Saat Pandemi

  • Artikel/Berita
  • 28 Juli 2020
  • Rika Yudani - Project Officer of Room to Read Division
Berkat Guru, Kegiatan Membaca Tak Terhenti Saat Pandemi

Pantang menyerah dan penuh dedikasi. Begitulah yang ditampakkan oleh para guru dari Sekolah Proyek Google di wilayah Sidoarjo, Jawa Timur; Bali; dan Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama masa belajar dari rumah, mereka berupaya mendorong para siswa untuk tetap membaca buku. Kisah-kisah menarik mereka disampaikan dalam Temu Daring “Berbagi Praktik Baik: Menumbuhkan Minat Baca Anak Menggunakan Literacy Cloud selama #BelajarDariRumah” yang diselenggarakan oleh Room to Read Bersama ProVisi Education dengan dukungan Direktorat Sekolah Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Temu Daring mengundang 30 kepala sekolah dan dua orang perwakilan guru yang merupakan mitra binaan Mutiara Rindang, Yayasan Literasi Anak Indonesia, dan Taman Bacaan Pelangi serta Dinas Pendidikan setempat. Melalui Temu Daring ini, para guru diharapkan dapat saling berbagi inspirasi dan strategi saat menghadapi tantangan selama kegiatan belajar di rumah yang penuh keterbatasan.

Annisa Luthfi, dari Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI), menyampaikan bahwa guru dan sekolah menghadapi dua tantangan. “Pertama adalah tantangan fasilitas, yaitu tidak tersedianya akses internet dan tidak tersedianya kuota internet yang terjangkau,” ungkapnya. “Yang kedua, adalah tantangan saat bekerja sama dengan orang tua. Kami harus menerapkan strategi untuk membuat orang tua mau terlibat.”

Luthfi mengungkapkan bahwa guru memiliki peran penting dalam kegiatan membaca. “Guru tetap menjadi aktor dan fasilitator utama; mereka tidak membebani, namun memotivasi orang tua,” ungkapnya. Ia memberi contoh, “Setiap minggu, guru-guru di SD 3 Mambal, Badung memberi rekomendasi buku kepada orang tua untuk dibaca bersama anak, sehingga orang tua tetap merasa didukung dan dibantu.”

Para siswa dan orang tua kemudian diminta mendokumentasikan kegiatan membaca bersama sebagai suatu bentuk apresiasi. Di Waru, Sidoarjo, sekolah mitra Mutiara Rindang, SDN Medaeng 1, membentuk kelompok Kelas Literasi yang beranggotakan guru, siswa, dan orang tua siswa. Kelompok Kelas Literasi ini mendorong siswa dan orang tua terlibat dalam kegiatan membaca yang menyenangkan di rumah. Para guru juga secara teratur merekomendasikan satu cerita yang sesuai dengan jenjang siswa.

Selain itu, didampingi oleh Mutiara Rindang, para guru melaksanakan program puskel atau perpustakaan keliling. Mulai pukul 08.00 WIB, kepala sekolah dan guru berkeliling ke rumah siswa dan mendampingi belajar jarak jauh dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Setelah menyelesaikan pembelajaran dua mata pelajaran, para siswa dilibatkan dalam kegiatan membaca menggunakan Literacy Cloud. Dalam program ini, Mutiara Rindang menyediakan akses internet portabel yang memudahkan baik guru maupun siswa terhubung dengan buku-buku digital Room to Read.

Mutiara Rindang juga menjalankan program during atau dukungan daring, berupa pendampingan daring untuk guru agar mampu mengawal kegiatan belajar dan kegiatan membaca di rumah dengan lebih berkualitas. “Kami melakukan integrasi mata pelajaran dengan buku-buku dalam Literacy Cloud,” ungkap Kuswanto dari Mutiara Rindang. “Kami menggabungkan anjuran membaca dengan tugas belajar yang ringan dan menyenangkan.”

Di Ende, para guru mitra Taman Bacaan Pelangi juga memiliki strategi ‘jemput bola’ untuk membuat anak-anak tetap aktif membaca. Beberapa guru berkeliling membawa buku ke rumah siswa, sedangkan guru lainnya memperbolehkan siswa datang ke rumah mereka untuk meminjam buku.

Anastasia Cue, Kepala Sekolah SD 1 Ende mengungkapkan bahwa para pustakawan sekolah berperan aktif mendatangi rumah siswa untuk mengantarkan buku dan mendorong kegiatan membaca. Ia menambahkan, keberadaan Literacy Cloud sangat bermanfaat melalui penyediaan buku-buku cerita anak berkualitas khususnya di masa pandemi ini.

Dalam Temu Daring ini, Eko Warisdiono, Koordinator Fungsi Penilaian SD, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, berbagi pandangan tentang Relaksasi Kurikulum Ia mengungkapkan bahwa kondisi pandemi jangan sampai membuat anak kehilangan haknya untuk belajar. Oleh karena itu, Pemerintah memberikan keleluasaan penyederhanaan kurikulum yang didukung oleh Dinas Pendidikan setempat dan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah.

 

Kontak:
Sabrina Esther Sarmili
Koordinator Program Perpustakaan
+62 812-9589-5012

==

Tentang Room to Read

Room to Read didirikan pada tahun 2000 dengan keyakinan bahwa World Change Starts with Educated Children®. Room to Read menciptakan dunia yang bebas dari buta huruf dan bebas dari ketidaksetaraan gender. Kami mencapai tujuan ini dengan membantu anak-anak di masyarakat berpenghasilan rendah mengembangkan keterampilan membaca dan kebiasaan membaca, dan dengan mendukung anak perempuan untuk membangun keterampilan agar berhasil di sekolah dan mampu melakukan negosiasi terkait keputusan penting dalam kehidupan. Kami bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi mitra lainnya untuk memberikan hasil positif bagi anak-anak dalam skala besar. Room to Read telah berbagi manfaat dengan lebih dari 18 juta anak dan 39.000 komunitas di 16 negara dan bertujuan untuk menjangkau 40 juta anak pada tahun 2025. Pelajari tentang kami lebih lanjut di www.roomtoread.org.