Perkuat Kebiasaan Membaca Saat Pandemi, Room to Read Gandeng Komunitas dan Relaw

  • Article/News
  • 20 October 2020
  • Rika Yudani - Project Officer of Room to Read Division
Perkuat Kebiasaan Membaca Saat Pandemi, Room to Read Gandeng Komunitas dan Relaw

Pandemi Covid-19 Pandemi Covid-19 tidak hanya memberikan tantangan bagi sekolah, tenaga pendidik, dan orang tua, tetapi juga bagi komunitas di berbagai penjuru negeri. Memahami hal tersebut, Room to Read berupaya menggandeng lebih banyak komunitas dan relawan untuk bersama-sama menggiatkan kegiatan membaca di tengah berbagai keterbatasan akibat pandemi. Dalam pelatihan daring “Menumbuhkan Generasi Pembaca melalui Perpustakaan Digital” yang diselenggarakan pada Selasa (20/10/2020), Room to Read dan ProVisi Education mengundang para relawan Komunitas Jendela dari berbagai kota di Indonesia untuk berbagi semangat dan manfaat dari keberadaan LiteracyCloud.org.

Komunitas Jendela didirikan di Yogyakarta dengan fokus kegiatan pengembangan pendidikan anak, terutama minat baca anak. Kini Komunitas Jendela telah memiliki cabang di berbagai kota, diantaranya Jakarta, Bandung, Lampung, Malang, Bengkalis, Jember, Bangka, Sumatera Utara, dan Lembata, Flores. Dalam pelatihan bersama Room to Read, para relawan dari berbagai wilayah tersebut diperkenalkan kepada pelantar digital LiteracyCloud.org yang menjadi sumber bacaan yang tepat di masa pandemi.

Marisa Latifa, Founder Komunitas Jendela, dalam sambutan pembukanya mengungkapkan bahwa biasanya para relawan menggunakan buku fisik. Kini, pandemi membuat kegiatan tatap muka Komunitas Jendela terhenti. Maka, keberadaan perpustakaan digital menjadi salah satu solusi dari tantangan pandemi.

“LiteracyCloud akan membantu kita dalam kegiatan literasi,” kata Marisa. “Para relawan, guru, dan pendidik dapat memanfaatkan LiteracyCloud sebagai media dan referensi untuk mengembangkan kegiatan literasi yang menarik selama masa pandemi.”

Chatarina Trihastuti, Project Manager Room to Read, ProVisi Education mengungkapkan bahwa LiteracyCloud dibangun sebagai salah satu inisiatif Room to Read dan ProVisi Education untuk menciptakan generasi terdidik dan generasi pembaca. Inisiatif tersebut diwujudkan melalui penyediaan akses buku bacaan anak yang berkualitas serta pelatihan melakukan kegiatan membaca yang menarik.

“Kami telah membuat buku-buku anak berkualitas dan telah mengembangkan perpustakaan ramah anak sejak tahun 2014, namun kami menyadari bahwa buku-buku tersebut tidak dapat menjangkau seluruh anak Indonesia,” ungkapnya. “LiteracyCloud.org dibangun agar lebih banyak anak, lebih banyak guru, dan lebih banyak orang tua yang dapat memperoleh buku-buku berkualitas dan dapat mengikuti pelatihan melalui video-video yang dapat diakses dengan gratis.”

Para relawan Komunitas Jendela diperkenalkan dengan fitur-fitur LiteracyCloud.org yang dapat dimanfaatkan saat melakukan kegiatan membaca dan kegiatan literasi. Para relawan juga diajak berdiskusi dan berbagi cerita tentang bagaimana menumbuhkan kebiasaan membaca anak melalui paparan dan video. Mereka pun diminta tampil dan melakukan praktik membaca nyaring melalui buku-buku yang tersedia dalam LiteracyCloud.org. Di bagian akhir, para relawan didorong untuk turut melibatkan orang tua dalam mendukung kegiatan membaca anak di rumah. Sesi pelatihan diakhiri dengan tanya jawab dari para peserta.

Salah satu relawan yang mengikuti pelatihan, Marista Rovyanti, mengungkapkan bahwa pelatihan daring ini sangat menarik karena dapat menjadi acuan melaksanakan kegiatan Komunitas Jendela Jakarta. “LiteracyCloud.org menambah buku bacaan digital yang bisa dibagikan ke adik-adik,” ungkapnya dalam narasi umpan balik. “Dan (LiteracyCloud.org) bisa (membantu) berlatih dalam membacakan buku cerita dengan ekspresi dan gerak tubuh.”

Dalam LiteracyCloud.org, tersedia lebih dari 200 buku cerita digital berkualitas yang bisa dimanfaatkan para relawan dan komunitas untuk menciptakan kegiatan membaca yang lebih menyenangkan. Para relawan tidak perlu lagi menghadiri lokakarya tatap muka untuk mempelajari cara melakukan aktivitas membaca yang menyenangkan dan menarik. Sebagai gantinya, mereka dapat belajar dengan menonton video di ponselnya.

Kontak:
Sabrina Esther Sarmili
Koordinator Program Perpustakaan dan Ekspansi Program
+62 812-9589-5012

==

Tentang Room to Read

Room to Read didirikan pada tahun 2000 dengan keyakinan bahwa World Change Starts with Educated Children®. Room to Read menciptakan dunia yang bebas dari buta huruf dan bebas dari ketidaksetaraan gender. Kami mencapai tujuan ini dengan membantu anak-anak di masyarakat berpenghasilan rendah mengembangkan keterampilan membaca dan kebiasaan membaca, dan dengan mendukung anak perempuan untuk membangun keterampilan agar berhasil di sekolah dan mampu melakukan negosiasi terkait keputusan penting dalam kehidupan. Kami bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi mitra lainnya untuk memberikan hasil positif bagi anak-anak dalam skala besar. Room to Read telah berbagi manfaat dengan lebih dari 18 juta anak dan 39.000 komunitas di 16 negara dan bertujuan untuk menjangkau 40 juta anak pada tahun 2025. Pelajari tentang kami lebih lanjut di www.roomtoread.org.

Tentang Google.org

Google.org menghubungkan inovator nirlaba dengan sumber daya Google untuk menyelesaikan tantangan manusia yang kompleks, dan memastikan bahwa setiap orang dapat berpartisipasi dalam ekonomi digital. Teknologi yang sama yang membuat hidup kita lebih mudah setiap hari juga dapat membantu menyelesaikan beberapa masalah terbesar dunia. Itulah sebabnya kami menerapkan teknologi canggih untuk beberapa tantangan terbesar kami, seperti menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu memprediksi bencana alam. Setiap orang harus dapat berpartisipasi dalam ekonomi digital, jadi kami menyediakan pelatihan keterampilan digital untuk pencari kerja, mendukung keamanan online dan melek media, dan berinvestasi dalam pendidikan ilmu komputer untuk siswa - terutama di komunitas yang kurang terwakili. Kita tahu bahwa jawaban terbaik sering datang dari jawaban yang paling dekat dengan masalah. Itulah sebabnya kami bergabung dengan inovator nirlaba, melakukan sukarelawan Google, teknologi, dan lebih dari $200 juta dalam bentuk hibah setiap tahun untuk membantu meningkatkan dampaknya.