Melukis Indonesia Melalui Tulisan

Melukis Indonesia Melalui Tulisan


[Peserta dari Serang Banten menerima sertifikat atas partisipasi dalam workshop]

Proses pengembangan buku Room to Read fase kedua telah memasuki siklus terakhir. Januari 2018 menjadi saksi dilaksanakannya Writer’s Workshop Siklus III atas proyek “Scaling Quality Learning for Children: Developing a Habit of Reading with Partners in Indonesia”. Sebanyak 24 penulis Indonesia yang mewakili penerbit Bestari, Kanisius, Nourabooks, dan Yayasan Litara diterbangkan ke Yogyakarta untuk mengikuti serangkaian workshop di The Westlake Resort, Sleman, selama 17-20 Januari 2018.


[Peserta dari Penerbit Nourabooks  sedang melakukan diskusi intra-kelompok, bersama editor dan desainer masing-masing penerbit]


[Peserta dari penerbit Bestari sedang melakukan diskusi intra-kelompok, bersama editor dan desainer masing-masing penerbit]

Meski jumlah pelamar peserta Writer’s Workshop meningkat 34% dibandingkan siklus sebelumnya, masing-masing penerbit hanya dapat memanggil enam penulis untuk dibawa mengikuti workshop. Editor dan desainer setiap penerbit ikut hadir selama kegiatan untuk membantu para peserta melewati proses pengembangan naskah. Selama empat hari pelaksanaan, para peserta mengikuti serangkaian kegiatan yang terdiri dari pemberian materi penulisan, penulisan naskah, mentoring, hingga games.


[Diskusi naskah berbasis karakter antara penulis dan penerbit Kanisius]

Seperti pelaksanaan workshop sebelumnya, hari pertama dimulai dengan perkenalan mengenai Room to Read, ProVisi Education, dan program pengembangan buku yang akan dijalankan. Penjelasan mengenai pembuatan naskah menggunakan karakter sebagai dasar cerita diberikan berikutnya oleh Eva Nukman, fasilitator yang berasal dari Bandung. Peserta mendapatkan pemahaman bahwa sebuah karakter bisa memunculkan konfilk, yang akhirnya melahirkan sebuah ide cerita. Pada akhir hari pertama, peserta pun menyelesaikan satu naskah berdasarkan karakter yang mereka temukan sendiri.


[Eva Nukman memberikan materi tentang karakter] 


[Alfredo Santos memberikan materi tentang perangkat narasi]

Workshop hari kedua diisi oleh materi tentang tema-tema khusus. Room to Read, ProVisi Education, dan mitra-mitra penerbit, telah menentukan sejumlah tema yang dapat digunakan peserta untuk mengembangkan cerita. Tema-tema tersebut dipilih khusus karena memiliki keunikan dibandingkan tema umum buku cerita anak, pun memiliki nilai moral yang lebih dalam. Misalnya: tema tentang menghormati perbedaan, fobia, disabilitas, bahkan identitas diri. Pada hari yang sama, Alfredo Santos, Literacy Manager QRM Room to Read Asia Tenggara, juga memberikan materi tentang sepuluh perangkat narasi yang bisa digunakan penulis untuk mengembangkan naskahnya.


[Dina Amalia memberikan konvensi cerita rakyat Indonesia] 


[para peserta mempelajari cerita rakyat yang akan diadaptasi ke buku cerita anak]

Materi pengadaptasian dongeng ke dalam cerita anak diberikan pada workshop hari ketiga. Dina Amalia Susamto dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud menyapa peserta dengan materi tentang konvensi dongeng atau cerita rakyat Indonesia. Disusul oleh praktik pengadaptasian dongeng dalam kelompok kecil bersama Alfredo Santos. Selama sehari penuh, Dina dan Alfredo mendampingi peserta dalam pengembangan cerita anak melalui adaptasi dongeng atau cerita rakyat. Pada akhir hari ini, setiap peserta sudah mengantongi tiga cerita anak yang berpotensi untuk dikembangkan bersama Room to Read.


[Seorang peserta asal Bali sedang mempresentasikan karyanya dalam forum terbuka]

Pada setiap rangkaian hari workshop, peserta juga diberikan kesempatan untuk melakukan presentasi di depan forum. Naskah disampaikan melalui penjelasan karakter, objektif, motivasi, tantangan, beginning-middle-end, bahkan pembagian teks maupun ilustrasi. Peserta dan editor membantu presenter untuk memperbaiki bagian-bagian yang masih dapat dikembangkan. Selama proses tersebut, editor dan desainer masing-masing penerbit berperan aktif dalam membantu peserta mengembangkan naskahnya.


[Peserta lain memberikan komentar dan masukan atas naskah yang baru saja dipresentasikan]

Hari terakhir workshop diisi oleh presentasi final setiap peserta. Peserta juga mendapatkan arahan Next Step maupun peran dan tanggung jawab yang perlu dilakukan oleh Chatarina Trihastuti dari ProVisi Education, jika naskahnya terpilih untuk dikembangkan oleh Room to Read. Setelah foto bersama, dilakukan pemberian sertifikat sebagai apresiasi atas partisipasi peserta mengikuti workshop.


[Para editor dan desainer setiap penerbit berfoto bersama Room to Read dan ProVisi Education]

Tepat dua hari setelah workshop ditutup, pada 21-22 Januari 2018, Room to Read, ProVisi Education, dan mitra penerbit: Litara, Bestari, Kanisius, dan Nourabooks, melakukan diskusi mengenai naskah-naskah yang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut bersama Room to Read. Setelah pembicaraan panjang, terpilihlah 24 naskah yang akan melanjutkan proses pengembangan ke tahap workshop ilustrator, yang akan dilaksanakan pada 11-15 Maret 2018 mendatang.


[Peserta, penerbit, Room to Read, dan ProVisi Education berfoto bersama pada akhir rangkaian acara]