Dari Lapangan

SEMINGGU, BERGURU DARI SIKLUS SATU

  • Article 3

Tanggal Posting: 23 Oktober 2017 | Penulis: Enda Hidayat - Literacy Development Program

Nusa Dua, Bali, menjadi muara bertemunya tiga mitra perpustakaan; Yayasan Literasi Anak Indonesia, Mutiara Rindang, dan Taman Bacaan Pelangi. Selama enam hari penuh, 2-7 Oktober 2017, mereka berkolaborasi dalam Library Management, Period, and Sustainability Workshop ToT Refresher.

Setiap mitra menggandeng satu orang perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, yaitu dari Kabupaten Ende (NTT), Sidoarjo (Jawa Timur), dan Denpasar (Bali). Selain itu ProVisi Education pun mengundang seorang perwakilan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Pelatihan ini bertujuan untuk menyegarkan kembali pemahaman para trainer (mitra perpustakaan) tentang konten pengelolaan, jam kunjung, dan keberlangsungan perpustakaan. Tak hanya itu, keterampilan memfasilitasi pun kembali ditingkatkan. Metode baru dalam penyampaian materi menjadi bagian dari rangkaian sesi yang difasilitasi oleh David Strawbridge, Associate Director Southeast Asia on Literacy Program of Room to Read.  


[Peserta berdiskusi dalam kelompok untuk mengidentifikasi konten yang harus ditekankan dalam pelatihan pengelolaan perpustakaan, salah satunya adalah konten kebiasaan membaca, Senin 2/10.]

Berbagi pengalaman dari pelatihan distrik pengelolaan perpustakaan pada siklus satu, menjadi menu pembuka hari pertama pelatihan. Struktur pelatihan pengelolaan perpustakaan pun dibedah guna mengidentifikasi konten dan kegiatan yang harus ditekankan dalam pelatihan distrik siklus kedua. Menampilkan media atau wujud produk secara langsung juga menjadi poin menarik dalam diskusi. “Menghadirkan rak buku seutuhnya dinilai akan lebih efektif dan membuat peserta lebih ingat bagaimana cara menata buku,” ungkap Mahrita – Program Officer Taman Bacaan Pelangi (TBP).  


[David Strawbridge – Room to Read mempraktikan metode baru dalam menyampaikan materi tugas dan tanggung jawab kepala sekolah, guru, pustakawan, dan siswa relawan, Selasa 2/10.]

Pada hari kedua, mitra perpustakaan melanjutkan berbagi pengalaman tentang pelatihan jam kunjung. Rutinitas perpustakaan dan kegiatan membaca kembali dipraktikkan, sehingga tiap peserta mendapatkan kesempatan untuk berlatih. Meskipun kegiatan ini merupakan hal baru bagi perwakilan dinas dan kementerian, mereka terlibat aktif di setiap praktiknya. Pengalaman dari setiap mitra menjadi ilmu yang dapat diadaptasi oleh mitra lainnya. Menurut Eka Yulianti, Program Coordinator Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI), dalam mengajarkan jenjang buku lebih baik menunjukkan bentuk gambarnya agar siswa lebih mudah mengingat jenjang sesuai kemampuan bacanya.

Pada sesi keberlanjutan perpustakaan, peserta berdiskusi dan menyusun strategi tentang bagaimana menjaga keberlanjutan perpustakaan sesuai dengan konteks daerah masing-masing. Komitmen dari kepala sekolah dan keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam diskusi. Menurut Abdul Munif, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo, perlu adanya keterlibatan orang tua secara progresif dan aktif agar perpustakaan terus bertahan dan anak-anak dapat mengembangkan kebiasaan membaca.


[Peserta mempraktikkan langkah-langkah kegiatan membaca lantang secara berpasangan. Dimulai dengan cara duduk, memegang buku, membuka buku dan menunjukan gambar yang menarik kepada siswa, Selasa 3/10]


[Setiap kelompok mendiskusikan bagaimana cara mendapatkan buku-buku baru bagi perpustakaan. Sponsorship, komite sekolah dan alumni menjadi target pengajuan proposal sumbangan buku, Rabu 4/10]

Selanjutnya, pada hari-hari terakhir, peserta diajak berlatih dan mengasah keterampilannya menjadi fasilitator yang baik dan efektif. Tidak mudah menjadi seorang fasilitator, karena harus mampu mengendalikan materi hingga peserta pelatihan agar tujuan pelatihan tercapai. “Kita memberikan pelatihan supaya peserta pelatihan mengubah cara berpikir dan bersikapnya sesuai yang kita harapkan,” ujar David Strawbridge.  


[Lanny Anggraini (Seksi Penilaian, Subdit Kurikulum, Dirketorat Pembinaan SD, KEMDIKBUD) dan I Ketut Arsana (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Denpasar) terlibat aktif dalam praktik memfasilitasi kegiatan membaca berpasangan bersama peserta, Sabtu 7/10]

Kehadiran dinas Pendidikan maupun Perpustakaan, bahkan Kementerian Pendidikan, adalah kekuatan baru bagi proyek pengembangan perpustakaan ini untuk dapat berjalan dalam jangka panjang. Mereka menjadi kunci-kunci penting yang mampu menggerakkan warga sekolah, masyarakat, bahkan pihak ketiga agar terus bersinergi demi keberlangsungan perpustakaan ramah anak. 

 

Bagikan Postingan Ini

ProVisi Education

ProVisi Education adalah konsultan peningkatan mutu pendidikan dan mitra pelaksana bagi lembaga dan perusahaan dalam mengimplementasikan program-program pengembangan pendidikan. Kami membantu program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), lembaga swadaya masyarakat (NGO), dinas pendidikan, dan sekolah,…
Selengkapnya