Dari Lapangan

Perpustakaan Ramah Anak

  • Article 3

Tanggal Posting: 30 Mei 2018 | Penulis: Katherine Eka Laila - External Relations Manager

Dalam Pasal 3 UU No 43 Tahun 2007 menyebutkan bahwa, "perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. 
Lalu pada bagian ketiga tentang Perpustakaan Sekolah/Madrasah, Pasal 23 ayat 1 menyebutkan bahwa, "Setiap sekolah/madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional perpustakaan dengan memperhatikan Standar Nasional Pendidikan".

Sudah jelas tercantum didalam UU bahwa setiap sekolah wajib memiliki perpustakaan. Tidak hanya fisik bangunannya, namun perpustakaan tersebut pun wajib memenuhi standard nasional perpustakaan sekolah.
Sumber data dari PNRI (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia) tahun 2015, jumlah Sekolah Dasar (SD) yang ada di Indonesia berjumlah 170.647, dan jumlah SD yang memiliki perpustakaan yaitu 78.432 atau sebesar 45,9%. Ini berarti sebanyak 92.215 SD belum memiliki perpustakaan.

Dalam pelaksanaan 'Program Pengembangan Literasi' yang dilakukan oleh ProVisi Education (PE) di berbagai daerah, pada awal survey seringkali menemukan bangunan perpustakaan yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya; ruang perpus yang terkunci rapat, tidak ada jam kunjung perpus, tidak ada pustakawan atau guru jaga, berisi buku-buku teks pelajaran saja, hingga ruangan perpus yang digunakan sebagai gudang. Kondisi ini merupakan hal yang umum ditemukan di banyak daerah.

Semangat meningkatkan kemampuan literasi dasar anak telah menjadi upaya besar bagi beberapa entitas masyarakat, hal itu dilatarbelakangi oleh hasil survey PISA hingga tahun terakhir yang masih menempatkan Indonesia berada pada peringkat bawah dari segi kemampuan literasi.

'Program Perpustakaan Ramah Anak' menjadi salah satu misi PE untuk meningkatkan kemampuan literasi di Indonesia. Penyediaan ruang perpus yang RAMAH ANAK beserta buku-buku bacaan berkualitas merupakan dua hal utama dari program ini. Namun pendampingan intensif tetap dilakukan seperti pelatihan guru & pustakawan, pengembangan sistem, serta aktivitas bersama lainnya yang menunjang agar program ini berkelanjutan. Visi besarnya tentu saja agar kegiatan membaca itu menjadi budaya dan kebutuhan bagi anak-anak Indonesia.

[Foto : Perpustakaan Ramah Anak di salah satu sekolah dasar dampingan ProVisi Education yang berada di Pulau Buluh - BATAM]

Bagikan Postingan Ini

ProVisi Education

ProVisi Education adalah konsultan peningkatan mutu pendidikan dan mitra pelaksana bagi lembaga dan perusahaan dalam mengimplementasikan program-program pengembangan pendidikan. Kami membantu program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), lembaga swadaya masyarakat (NGO), dinas pendidikan, dan sekolah,…
Selengkapnya