Dari Lapangan

Merancang Buku Cerita Anak Berlatar Budaya Nias

  • Article 3

Tanggal Posting: 29 Agustus 2017 | Penulis: Tim Harthana - Program Coordinator

Provisi Education kembali terlibat dalam proses kreatif pengembangan dan rencana penerbitan buku cerita anak bergambar. Kali ini, Wahana Visi Indonesia (WVI), yayasan sosial kemanusian yang bekerja untuk perubahan berkelanjutan, menggandeng Provisi memberikan pelatihan penulisan untuk buku cerita anak Nias.

Kali ini, kami melatih 20 peserta yang berasal dari lembaga pendidikan, praktisi media, budayawan, dan perwakilan Dinas Pendidikan Kota Gunungsitoli. Kami memberikan pemahaman tentang konsep-konsep bagaimana mengembangkan ide dan menulis cerita untuk anak-anak, khususnya pembaca pemula. 

Selama tiga hari, Kamis-Sabtu (24-26 Agustus 2017), peserta diajak lebih dulu mengenal siapa sebenaranya target pembaca dari cerita yang akan mereka tulis, yaitu anak-anak yang berusia sekitar enam hingga sembilan tahun. "Sasaran kami adalah pembaca pemula, yakni anak-anak yang baru belajar membaca," ujar Golda E.G. Simatupang, Education Specialist of WVI. 

Setelah itu, peserta diajak membuat karakter yang menjadi tokoh utama cerita dan mulai mengembangkan ide, serta membagi alur cerita dilengkapi dengan konflik yang menjadikan cerita tersebut hidup. Cerita yang dibuat bukan cerita anak-anak biasa, namun sudah memasukkan unsur budaya dan tradisi Nias. Bahkan, peserta diminta mengadaptasi cerita rakyat Nias, saat pelatihan hari kedua. 

Provisi Education mendampingi peserta pelatihan menggali ide dan menuliskannya ke dalam alur cerita yang sederhana bagi anak-anak, Jumat (25/8).

Menurut Golda, unsur budaya dan tradisi, bahkan bahasa Nias, memang sengaja menjadi bagian penting dalam pengembangan buku cerita anak kali ini. Sebab, WVI menginginkan buku-buku yang dibuat benar-benar dekat dengan anak-anak. Bahkan, dengan menggunakan bahasa ibu (bahasa Nias), diharapkan membuat anak-anak lebih mudah memahami isi cerita dan akrab dengan buku. 

Pelatihan berakhir saat peserta diminta mengumpulkan dua draf naskah. Memang tidak semua peserta menyelesaikan karena peserta yang hadir bukanlan penulis. Masih ada satu-dua peserta yang kesulitan menumpahkan idenya dalam tulisan. Namun, peserta lain dengan semangat menulis, bahkan berencana membuat dua tulisan baru setelah pelatihan selesai.

Diakui oleh Asali Buaya, peserta dari budayawan dan praktisi pendidikan, bahwa pelatihan ini sangat berperan membangun budaya literasi anak-anak di Nias. Sebab, cerita dan tulisannya membuat anak-anak mudah membaca. "Ternyata susah juga ya bikin buku cerita anak," ujar Asali.  

Bagi Provisi Education, semakin banyak publik menyadari sekaligus memahami pentingnya keberadaan buku bagi pembaca pemula, hal ini akan menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Sekali lagi, literasi bukanlah tanggung jawab mutlak dari pemerintah dan sekolah, melainkan juga menjadi tanggung jawab masyarakat umum, termasuk Anda. (tim)​

Bagikan Postingan Ini

ProVisi Education

ProVisi Education adalah konsultan peningkatan mutu pendidikan dan mitra pelaksana bagi lembaga dan perusahaan dalam mengimplementasikan program-program pengembangan pendidikan. Kami membantu program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), lembaga swadaya masyarakat (NGO), dinas pendidikan, dan sekolah,…
Selengkapnya