Dari Lapangan

Mengajak Guru Membaca untuk Siswa di Perpustakaan

  • Article 3

Tanggal Posting: 21 Februari 2017 | Penulis: Tim Harthana - Program Division

Bersama dengan tiga mitra perpustakaan, ProVisi Education telah melatih kegiatan membaca kepada 30 kepala sekolah serta 74 guru kelas dari tiga area proyek pengembangan perpustakaan, yakni Gresik (Jawa Timur), Badung (Bali), dan Manggarai Barat (Nusa Tenggara Timur). Ada yang semangat dan antusias, namun ada pula yang masih malu-malu berekspresi dan canggung. 

Pelatihan dilakukan di tiga kota terpisah dan oleh tiga mitra perpustakaan yang berbeda, yakni Taman Bacaan Pelangi di Labuan Bajo (NTT); Mutiara Rindang di Gresik; dan Yayasan Literasi Anak Indonesia di Bali. Di setiap wilayah, peserta berasal dari 12 sekolah yang telah dipilih sebagai sekolah penerima manfaat. Tiap sekolah mengirimkan tiga orang perwakilannya, yakni kepala sekolah dan guru, mendapatkan bekal keterampilan melakukan empat kegiatan membaca, salah satunya yaitu membaca lantang. 

Deretan sesi memenuhi workshop kegiatan membaca dan jam kunjung di perpustakaan selama empat hari. Meski cukup lama, dari pagi hingga sore, namun peserta tidak terlihat lelah atau bosan. Menurut mereka, pelatihan yang dihadirkan fasilitator relatif mudah diikuti, dipahami, dan menyenangkan. Sebab, diselingi dengan permainan edukatif yang menyegarkan. 

"Ibu-ibu dan bapak-bapak, tidak usah malu-malu. Ayo coba tirukan saya sekali lagi", ajak Dewi, salah seorang fasilitator dari Taman Bacaan Pelangi. "Hore, Poni bebas!" begitu seru Dewi memberikan contoh sambil mengepalkan tangannya dan memasang wajah gembira. 

Di kesempatan lainnya, Olla memeragakan langkah-langkah membaca lantang disertai dengan ekspresi yang membuat kagum peserta pelatihan. "Tolong bantu potongkan kuku-kuku ku", suara Olla berat saat membacakan dialog pada buku Jana Tak Mau Tidur. 

Sementara itu, dengan gayanya yang khas dan tenang, Wahyu menjelaskan kepada peserta pelatihan apa sebenarnya konsep dasar membaca dan bagaimana kegiatan membaca mampu menumbuhkan kebiasaan membaca. Satu per satu pertanyaan para guru yang belum memahami konsep membaca pun dijawab Wahyu dengan sesekali diselipi kalimat canda. 

Di sesi hari terakhir, peserta pun diajak langsung praktik kegiatan membaca di sekolah. Respon yang muncul pun beragam. Peserta yang akan mempraktikkan kegiatan membaca di depan murid ternyata banyak yang demam panggung. Padahal, setiap hari mereka menghadapi murid-muridnya di kelas. "Soalnya kan belum pernah. Jadi grogi", ujar salah seorang guru senior di Labuan Bajo yang setiap hari mengajar siswa kelas 2. 

Persiapan pun dilakukan para peserta yang praktik di sekolah. Ada yang berlatih semalaman supaya tidak lupa dengan langkah-langkahnya; Berlatih di depan cermin agar dapat melihat ekspresinya saat membaca; ada yang membuat dan menempelkan catatan-catatan kecil di bagian belakang buku yang dibacanya. Mereka semua ingin tampil yang terbaik saat praktik. 

Sebenarnya, saat praktik di sekolah, peserta bukan tidak boleh salah. Melainkan, mereka diajak belajar dari kesalahan dan kekurangan, dan merasakan langsung tantangan membacakan buku di hadapan siswa. Kami pun berpesan, bahwa tidak masalah jika mereka masih melakukan kesalahan di saat membaca yang pertama atau kedua kali. Sebab, untuk tampil baik dan sempurna, memang butuh latihan dan sering melakukannya di perpustakaan. 

Nantinya, materi-materi yang telah disampaikan oleh fasilitator dari tiga mitra perpustakaan, akan disebarkan lagi oleh peserta pelatihan kepada rekan-rekan guru di sekolahnya masing-masing. Tujuannya, semua guru di sekolah mampu dan mau melakukan kegiatan membaca untuk anak-anak di perpustakaan sekolah.

Bagikan Postingan Ini

ProVisi Education

ProVisi Education adalah konsultan peningkatan mutu pendidikan dan mitra pelaksana bagi lembaga dan perusahaan dalam mengimplementasikan program-program pengembangan pendidikan. Kami membantu program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), lembaga swadaya masyarakat (NGO), dinas pendidikan, dan sekolah,…
Selengkapnya