Dari Lapangan

Melahirkan Tokoh Kece yang Memorable

  • Article 3

Tanggal Posting: 8 Agustus 2018 | Penulis: Moemoe Rizal & Chatarina Trihastuti - Literacy Program


[Karakter Sloth (melalui media plastisin) dalam salah satu cerita yang dikembangkan Room to Read]

Percaya atau tidak, karakter adalah elemen penting dalam buku cerita anak. Tanpa karakter yang kuat, sebuah buku bisa dilupakan pembacanya begitu sampul belakang tertutup. Melalui workshop ilustrator yang diadakan Room to Read, sebanyak 24 orang kreatif di Indonesia dikenalkan pada kunci paling ajaib dalam mengembangkan buku cerita anak yang menarik: tokoh. 


[Proses pencarian ide untuk visual tokoh]

Room to Read melalui ProVisi Education, bekerja sama dengan Yayasan Literasi Anak Indonesia, Penerbit Bestari, Kanisius, dan Nourabooks menyelenggarakan workshop “Mengilustrasikan Buku Cerita Bergambar” di Bali pada 11-15 Maret 2018. Setelah melewati seleksi nasional, para ilustrator dikumpulkan untuk mengikuti lokakarya pengembangan buku cerita bergambar.
Cerita paling menarik adalah ketika setiap ilustrator mengembangkan masing-masing karakter yang diberikan. Pada dasarnya, tidak ada karakter yang sama karena cerita yang dikembangkan merupakan 24 cerita anak berbeda. Namun tantangan justru muncul ketika para ilustrator diharapkan dapat menciptakan karakter yang menonjol dan menarik perhatian. Menciptakan satu stand-out character di antara 23 tokoh menonjol lain, jelas bukan PR yang mudah bagi peserta workshop.


[Para peserta workshop mencoba berbagai versi untuk pengembangan tokoh]

[Para peserta workshop mencoba berbagai versi untuk pengembangan tokoh]

Meski secara hitam di atas putih semua karakter dideskripsikan berbeda, tetapi pengembangan ilustrasi mengalami hambatan. Khusus bagi karakter anak-anak, beberapa ilustrator terjebak dalam klise visual yang sering muncul dalam karya-karya ilustrasi buku yang pernah terbit. Beberapa karakter dinilai hampir mirip satu sama lain, meskipun sudah digambarkan dengan atribut unik yang hanya ada dalam cerita. 


[Tokoh anak-anak menjadi tantangan bagi sebagian ilustrator, karena untuk membuatnya berbeda satu sama lain, dirasa cukup sulit]​

Untuk menghadapi tantangan tersebut, para peserta diajak duduk bersama dan membahas hal-hal apa saja yang dapat digunakan untuk membuat masing-masing tokoh menonjol. Setiap ilustrator dalam workshop mempresentasikan pengembangan karakter masing-masing, termasuk menyampaikan apa saja hambatan dan keunikan yang dimiliki tokoh. Fasilitator, editor, desainer, bahkan peserta lain memiliki kesempatan untuk mengomentari atau memberikan masukan. Melalui forum terbuka—atau yang kami namai Gallery Walk—para peserta mendapatkan sedikit insight mengenai apa yang perlu ditambahkan (atau dikurangi) pada pengembangan karakternya sehingga menonjol seperti halaman semula.


[Peserta workshop mempresentasikan pengembangan karakternya untuk mendapatkan feedback dari Room to Read, fasilitator, editor, desainer, dan peserta lain]

Untuk membantu proses tersebut, setiap peserta juga diminta membuat rancangan tiga dimensi karakter menggunakan plastisin. Peserta menghabiskan satu malam untuk membuat karakter yang dapat dilihat dari berbagai sudut. Dengan cara ini, peserta memiliki kesempatan untuk mengembangkan lagi bagian-bagian baru yang mungkin baru terlihat dari sudut pandang lain. Gallery Walk untuk karya tiga dimensi pun dilangsungkan pada pagi hari, sehingga ilustrator kembali mendapat masukan dan ide untuk pengembangan karakternya.


[Hasil karya peserta saat mengubah konsep karakter ke dalam bentuk tiga dimensi melalui media plastisin]​


[sesi tanya jawab berkaitan dengan karya plastisin yang dipresentasikan]

Namun, pengembangan tidak cukup sampai di situ. Selama workshop, para peserta ilustrator juga harus melewati proses lain pengembangan buku cerita anak, di antaranya: storyboard, detail spread, coloring, dan pembuatan sampul buku. Meski terdengar tidak berkaitan dengan pengembangan karakter, tetapi proses tersebut sebenarnya membantu ilustrator mengembangkan visual karakter yang lebih unik lagi. 


[Proses pembuatan storyboard, salah satu cara dalam pengembangan karakter]

Ketika merumuskan storyboard cerita, beberapa ilustrator bertemu dengan ide-ide baru. Karena storyboard mencakup keseluruhan cerita, ilustrator lebih mengenal karakter internal masing-masing tokohnya, seperti: kemampuan tokoh, kebiasaan, tantangan, hingga kostum yang bisa jadi berkaitan dengan latar cerita. Kesempatan ini didukung oleh adanya proses pembuatan sebaran detail. Dengan berkecimpungnya para ilustrator lebih jauh ke jalan cerita, peserta dapat mengenal lebih dalam apa yang menonjol dari masing-masing karakter.


[Storyboard dari sebuah cerita dengan tokoh seekor badak]

Proses coloring juga memberikan bantuan cukup banyak, terlebih dalam meningkatkan pilihan bagi ilustrator untuk mengembangkan karakternya. Ketika peserta berkesempatan untuk mengujicoba karakter melalui berbagai warna, beberapa keunikan yang menonjol muncul. Sehingga, pada tahap ini, perbedaan dari 24 karakter yang ada di dalam workshop mulai terlihat kentara.


[Pewarnaan detail sebuah spread tentang perlombaan naheur corak (menangkap belut)]

Pembuatan sampul tak kalah menarik dalam pengembangan karakter. Mengingat sampul adalah faktor penentu seorang anak akan memilih sebuah buku dibandingkan buku lain dalam display, ilustrator bekerja keras bagaimana membuat tampilan yang menarik. Dorongan ini, tanpa sadar menjadikan ilustrator bekerja lebih jauh dalam mengembangkan karakternya. Karena, tokoh adalah hal pertama yang akan dilihat setiap anak-anak ketika menatap sampul buku.


Proses pembuatan cover sebuah cerita tentang bunga bangkai. Ilustrator menggunakan metode papercut sebagai media penyajian]

Pada akhir workshop, setiap ilustrator sudah berhasil mengembangkan karakter-karakter menonjol yang bisa dibedakan antara satu sama lain. Jika pada awal gallery walk banyak peserta yang mudah lupa pada satu karakter, ketika penutupan berlangsung hampir seluruh peserta mengingat jelas 24 karakter yang dikembangkan dalam workshop. Peserta bahkan mengikuti ice-breaking games berupa “tokoh-tokoh yang dikembangkan dalam workshop” yang dipimpin oleh Tim Kanisius, dan semua peserta dapat menyelesaikan permainan tersebut dengan baik. 


[Para peserta memainkan permainan “menebak tokoh” menggunakan gerakan badan]

Namun, perjalanan pengembangan karakter tidak berhenti hingga titik tersebut saja. Pada 15-24 Mei 2018, para peserta yang karyanya terpilih untuk dikembangkan bersama Room to Read bertemu kembali bersama editor dan desainer untuk melakukan mentoring pengembangan ilustrasi. Sesi mentoring tersebut difasilitasi oleh ProVisi Education, dengan kembali mengundang Alfredo Santos dari Room to Read sebagai resource person. 


[Sesi mentoring dilakukan dua bulan setelah pelaksanaan workshop untuk mendiskusikan pengembangan yang sudah dan akan dilakukan]

Setelah melalui jeda selama dua bulan, beberapa ilustrator tampak berhasil mengembangkan karakternya sesuai harapan dengan revisi-revisi minor yang perlu diubah. Namun untuk sebagian besar ilustrator, pengembangan karakter tampaknya menghadapi tantangan. Selain faktor waktu pengerjaan dan kesibukan dalam kegiatan lain, beberapa ilustrator masih membutuhkan bimbingan langsung mengenai pengembangan karakter yang diharapkan.


[Setiap peserta mendapatkan sertifikat keikutsertaan workshop ilustrator]

Draft kasar pertama yang dihasilkan akan digunakan dalam field testing ke 12 sekolah dasar di Jakarta, Bogor, Bandung, dan Yogyakarta.


[Peserta, Room to Read, ProVisi Education, mitra penerbit, dan fasilitator berfoto bersama pada akhir workshop. Lokasi: Swissbel-Resort Watu Jimbar, Denpasar]

 

 

 

 

 

 


 

 


 

Bagikan Postingan Ini

ProVisi Education

ProVisi Education adalah konsultan peningkatan mutu pendidikan dan mitra pelaksana bagi lembaga dan perusahaan dalam mengimplementasikan program-program pengembangan pendidikan. Kami membantu program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), lembaga swadaya masyarakat (NGO), dinas pendidikan, dan sekolah,…
Selengkapnya