Kumpul Bareng Cari Ide Untuk Pelantar Baru

  • Artikel/Berita
  • 11 Desember 2018
  • Muharram Rijalulhaq - Literacy Development Program
Kumpul Bareng Cari Ide Untuk Pelantar Baru

(Mencari ide potensial untuk pelantar video)

Dalam memperluas upaya peningkatan literasi anak-anak Indonesia, Room to Read dan ProVisi Education menggunakan pelantar baru dalam membantu masyarakat kreatif maupun awam dalam melahirkan buku-buku cerita anak. Berbasiskan video dalam aplikasi gawai, Room to Read tengah menyusun video-video yang dapat digunakan umum dalam pengembangan buku cerita anak dan perpustakaan ramah anak.

 (Mendiskusikan bersama hasil uji video)

Untuk mewujudkan upaya tersebut, beberapa narasumber lokal diundang untuk memberikan masukan terhadap proyek yang akan dilaksanakan akhir tahun 2018 tersebut. Perwakilan dari Yayasan Litara (Eva Nukman dan Evelyn Ghozalli), desainer Penerbit Bestari (Novita Elisa Fahmi), Institut Kesenian Jakarta (Iwan Gunawan), Institut Teknologi Bandung (Riama Maslan dan Dianing Ratri), dan ilustrator (Henky Jaya Dinata) menghadiri pertemuan satu hari penuh di Grand Tjokro Hotel Bandung pada 9 Juli 2018. Fasilitator dalam pertemuan ini adalah Alisha Berger dan Alfredo Santos dari Room to Read, dimoderatori oleh Chatarina Trihastuti dan Muharram R. dari ProVisi Education.

(Alisha Berger - Global Publishing dari Room to Read, memberikan gambaran pelantar baru)

(Alisha Berger - Global Publishing dari Room to Read, memberikan gambaran pelantar baru)

Meeting dilaksanakan untuk meninjau ulang masukan-masukan awal dari ilustrator dan praktisi seni tentang video tutorial dasar ilustrasi buku cerita anak. Para peserta juga bertukar pikiran dalam menyusun topik-topik yang akan digunakan Room to Read pada putaran pertama refleksi video untuk perpustakaan digital. 

(Para peserta mengungkapkan pendapat dan ide mengenai pelantar video)

(Para peserta mengungkapkan pendapat dan ide mengenai pelantar video)

Melalui sesi bertukar pikiran yang dilakukan dengan cara membagi peserta ke dalam dua kelompok, dilahirkanlah ide-ide yang dapat digunakan sebagai dasar pembuatan video nantinya. Secara umum, video yang akan dibuat berupa pengembangan buku dalam 5 menit, mencari ide bagi penulis, menggunakan budaya dalam ilustrasi bagi ilustrator, memotivasi penulis dan ilustrator bagi editor, dan masih banyak contoh lain yang dapat dikembangkan bersama.
Harapannya, semakin banyak seniman dan penikmat seni dapat mengakses konten-konten bermanfaat secara lebih mudah melalui pelantar digital.

(Fasilitator dan peserta berfoto bersama di akhir acara)