Fase II, Siklus 2: Kilas Balik

  • Article/News
  • 10 December 2018
  • Muharram Rijalulhaq & Chatarina Trihastuti - Literacy Program
Fase II, Siklus 2: Kilas Balik

Setelah satu tahun berkutat dalam pengembangan buku cerita anak bersama Room to Read, empat mitra penerbit yaitu BIP, YLAI, Puspa Swara, dan YLAI, fasilitator workshop penulis dan fasilitator workshop ilustrator berkumpul kembali untuk bernostalgia atas pencapaian, tantangan, dan strategi yang pernah dilalui bersama Room to Read/ProVisi, penulis dan ilustrator di Grand Tjokro Hotel Bandung pada 2 Juli 2018. 
    

(Riama Maslan, fasilitator Workshop Ilustrator dan tim Pelangi Mizan mendiskusikan pencapaian, tantangan, dan strategi yang telah dilakukan satu tahun bersama Room to Read)

(Eva Nukman, fasilitator Workshop Penulis dan mitra perpustkaan memberikan masukan mengenai penjenjangan buku)

Berbeda dengan Reflection Workshop pada siklus sebelumnya, kali ini ProVisi Education juga mengundang mitra perpustakaan Room to Read- Mutiara Rindang, YLAI, dan Taman Bacaan Pelangi- untuk berbagi pengalaman tentang pengembangan perpustakaan ramah anak dampingan para mitra.

Pengalaman mitra perpustakaan di lapangan menjadi masukan bagi penerbit dalam merumuskan jumlah kata, kalimat, dan banyaknya ilustrasi bahkan konsep untuk cerita-cerita yang akan dibuat mendatang. 

Selain itu, Reflection Workshop juga menjadi tempat di mana mitra penerbit dan mitra perpustakaan kembali diingatkan mengenai prinsip penjenjangan buku dan kembali diperkenalkan serta disepakati Panduan Penjenjangan Buku yang disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia. Panduan Penjenjangan Buku baru ini menggantikan panduan yang disepakati sebelumnya di tahun 2014. Pada tahun 2014, Panduan Penjenjangan Buku yang disepakati bersama mitra adalah panduan standard global Room to Read, yang secara umum digunakan untuk bahasa Inggris. Namun, ketika standar penjenjangan tersebut diaplikasikan ke bahasa Indonesia, beberapa buku pada jenjang rendah terpaksa naik jenjang hanya karena jumlah kata dan kalimatnya lebih banyak, padahal konsep yang disuguhkan lebih tepat untuk jenjang rendah. Hal tersebut membuat beberapa siswa tak dapat membaca buku karena tak sesuai jenjangnya atau sebaliknya siswa menjadi tak tertarik karena terlalu mudah. Para peserta diberikan kesempatan untuk menjenjangkan tiga buku dari terendah hingga tertinggi, untuk melihat persamaan standar antara penerbit dan mitra perpustakaan. 

Pada hari kedua, setiap penerbit memiliki kesempatan untuk mengulas perjalanan setiap buku dimulai dari pencarian penulis dan ilustrator, workshop, mentoring, field testing, hingga proses revisi. Jenjang buku juga ditentukan dan didiskusikan bersama mitra perpustakaan pada sesi ini. 
    
(Nur Asiah, Penerbit Puspaswara, mempresentasikan proses pengembangan buku berjudul Tuing-Tuing, satu-satunya buku naratif non-fiksi yang dikembangkan di siklus II)

(Nur Asiah, Penerbit Puspaswara, mempresentasikan proses pengembangan buku berjudul Tuing-Tuing, satu-satunya buku naratif non-fiksi yang dikembangkan di siklus II)