From the Fields

Pendidikan Non Formal di Weriagar, Sebuah Distrik di Papua Barat

  • Article 3

Posted on: 07 Tue 2018 | Author: Adhimas Wijaya - School Development Program

Tahun ini saya berkesempatan kembali bekerja di kota Bintuni. Masih belum sempat saya bernostalgia dengan Bintuni, pekerjaan sudah menanti. Setelah mengadakan pembukaan rumah pintar di Babo di bulan Februari. Saya kembali lagi ke Bintuni untuk pergi ke sebuah tempat bernama Weriagar. Weriagar adalah sebuah tempat yang tidak asing lagi bagi kami. Tidak ada transportasi umum ke Weriagar. Transportasi laut akan memakan waktu minimal 4 jam dengan biaya yang tidak sedikit. Biasanya guru-guru akan menghabiskan biaya 3 juta untuk pulang pergi Weriagar-Bintuni dengan longboat sewaan.

Saya senang sekali ketika pertama kali datang ke Weriagar. Jadi sebagian besar wilayah distrik Weriagar ini, menggunakan papan kayu sebagai jalan. Jadi untuk berjalan, kita akan menggunakan papan-papan kayu. Saya hanya menginap satu hari untuk melakukan sosialisasi dengan warga masyarakat yang ada di distrik Weriagar. Rasanya senang bertemu kepala kampung, tokoh perempuan dan tokoh pemuda untuk mendiskusikan tentang rencana Rumah Pintar yang akan dibangun. Rumah Pintar adalah salah satu upaya pendidikan Non Formal untuk membantu masyarakat menumbuhkan minat membaca.

Saya menginap di perumahan guru. Menurut saya tempat ini termasuk pedalaman walaupun hanya berjarak 4 jam dari Bintuni. Ada beberapa kriteria yang menyebabkan Weriagar ini dapat disebut pedalaman, yang pertama tidak ada transportasi umum ke Weriagar. Hanya bisa menyewa long boat dengan biaya yang tidak murah. Selain itu, untuk menuju Weriagar, perlu melewati daerah rawan ombak. Konon ceritanya ada bapak kepala sekolah yang belanja ke kota Bintuni untuk semua barang kebutuhan sekolah seperti ATK (alat tulis menulis) dan seragam siswa. Sesampainya di dekat Weriagar dan Aranday, ombak menghadang, akhirnya bapak tersebut membuang semua seragam dan ATK ke laut.

Alasan kedua adalah susah sinyal di Weriagar, jadi untuk dapat melakukan panggilan telepon hanya ada di tempat-tempat tertentu saja.  Untuk mendapatkan sinyal telepon, HP harus digantung di tempat-tempat tertentu. Terkadang kalau sinyal telepon susah, masyarakat harus rela berjalan ke pantai karena sinyal lebih banyak ada pantai. Bukan pantai, lebih tepatnya rawa-rawa sungai. Dan alasan ketiga adalah susah air. Susah air untuk mandi, apalagi air untuk minum. Masyarakat harus menggunakan air hujan dan air rawa untuk memasak. Kalau tidak turun hujan maka akan sulit mencari air minum. Masyarakat juga jarang mengonsumsi sayur dan buah, karena tidak ada sayur dan buah.

Akhirnya setelah dua minggu persiapan, Rumah Pintar Weriagar dibuka oleh perwakilan Dinas Pendidikan setempat (Disdikbudpora). Di Rumah Pintar ini, masyarakat terutama anak-anak yang berusia 7-18 tahun dapat belajar. Mereka dapat membaca buku, bermain, menggambar, belajar bahasa Inggris, kesenian, les, dan belajar komputer.

Rumah Pintar ini adalah sebuah usaha kebersamaan antara guru (sekolah), masyarakat dan pemerintah yang diharapkan dapat menciptakan sebuah karakter pembelajar sepanjang hayat di Papua. Rumah Pintar diharapkan menjadi tempat yang nyaman untuk belajar.

Dengan pendidikan non formal ini, diharapkan masyarakat semakin peduli dengan pendidikan. Masyarakat menjadi mendukung adanya perbaikan pendidikan. Selain itu, pemerintah juga memikirkan berbagai alternatif untuk pengembangan pendidikan selain pendidikan formal. Diharapkan dengan adanya Rumah Pintar ini, kemampuan calistung anak-anak meningkat dan anak-anak di kampung dapat mempunyai berbagai mimpi dan cita-cita untuk masa depannya.

[Bintuni, 29 Mei 2018]

Share this post

ProVisi Education

ProVisi Education is an education quality improvement consultant and implementing partner for organizations and companies in education development programs. We support corporate social responsibility programs, non-governmental organizations, education authorities, and schools by designing and implementing…
Read More